Ibadah Minggu Jam 06:00, 09:00, dan 18.00 WIB. Untuk Pos Ibadah Jam 07:00 WIB

- Tampilkan Lokasi Gereja

TEOLOGI KELUARGA DAN MASYARAKAT

Sudah 1285 kali dilihat

TEOLOGI KELUARGA DAN MASYARAKAT

Kejadian 6: 18

Pdt. Alexius Letlora, M.Min

gambar-1

Pendahuluan

“Kitab Suci dimulai dengan penciptaan pria dan wanita dalam gambar dan rupa Allah dan diakhiri dengan visi dari “pesta pernikahan Anak Domba.” Sepanjang Perjanjian Lama, kasih Allah bagi umat-Nya digambarkan sebagai cinta suami untuk istrinya. Dalam Perjanjian Baru, Kristus mewujudkan cinta ini. Dia datang sebagai Mempelai Pria untuk menyatukan dirinya dan tak terpisahkan untuk mempelainya, Gereja. Keluarga menjadi pusat masyarakat termasuk lembaga keagamaan. Keluarga adalah unit sosial dan ekonomi di mana pada dasarnya orang tua dan anak-anak hidup bersama dan merawat satu sama lain. Hal itu merupakan institusi dasar untuk pendidikan agama, khususnya dalam Yudaisme dan Kristen. Keluarga Kristen adalah gereja domestik atau gereja rumah.

Karl Rahner, Studies in Modern Theology (London: Herder, 1965), 293-294. Rahner argues that “we are not saying that the family is ‘like` the church, or that is ‘part` of the church. The family ‘is` the church in that it is a genuinely ecclesial expression of God`s presence among specific communities of people.

Keluarga sebagai persekutuan dalam wawasan dan implikasi tentang gereja melalui penggunaan model atau gambar, seperti tubuh manusia memang berfungsi untuk mensintesis tingkat kebutuhan dan pengharapan yang dapat menyebabkan hadirnya wawasan teologis baru. Artinya pemahaman tentang eksistensi keluarga dengan perannya yang aktual tidak terlepas dari berbagai perubahan di dalam dan sekaligus di sekitar gereja. Bertolak dari pemahaman yang demikian maka diskursus tentang eksistensi keluarga senantiasa menukik pada pemahaman mendasar tentang makna dan peran keluarga dalam perskpektif teologis.
Keluarga adalah bagian dari rencana Allah untuk menyelamatkan dunia. Kebenaran ini sulit diterima banyak orang di dunia modern untuk memahami karena kita telah mengadopsi pandangan individualistik. Memang, keselamatan selalu, dan pada saat yang sama sangat kolektif dan sangat pribadi, tetapi tidak pernah individualistik. Nuh adalah seorang yang benar dan mendapat “kasih karunia di mata Tuhan (Kej 6: 8). “Karena hubungannya dengan Allah, ia dan keluarganya diselamatkan (Kej 6:18).

Perjanjian dengan Abraham adalah untuk dia dan keluarganya bagi semua generasi. Semua keluarga (tidak individual) akan diberkati dalam dirinya (Kej 12: 3). Selama Paskah, orang-orang Yahudi yang diselamatkan dalam konteks keluarga makan bersama anggota keluarga. Semua yang berada dalam rumah keluarga mereka, makan makanan ritual dan bahwa darah anak domba Paskah diselamatkan dari kematian menjadi bagian dari setiap anggota (Kel 12: 3 dab). Berangkat dari pemahaman demikian maka jelas bahwa Allah menggunakan keluarga sebagai sarana untuk mengerjakan keselamatan.

1. Keluarga dalam ketegangan idealisme dan realitas.
Idealisme sebagai harapan, cita-cita yang tinggi merupakan gagasan mulia yang terwujud dalam lembaga keluarga. Barbara Corolloso (2010: 207) mengemukakan bahwa keluarga sebagai kelompok kecil yang terikat oleh komitmen, kasih sayang dan kerja sama memiliki identitas yang jelas serta fleksibel dalam mengembangkan perannya sebab anggotanya saling memengaruhi. Pemahaman demikian menunjukkan bahwa bahwa keluarga hadir dalam realitas. Hal demikian dapat diperhatikan dalam PL dimana tidak ada perjanjian tanpa melibatkan keluarga. Perjanjian, ajaran Hukum dan ritualnya yang disampaikan dalam keluarga. Dalam PB, kita menemukan praktek pembaptisan di keluarga (Kis 16:15, 31; 1 Kor 1:16) dan dalam Perjanjian Baru juga, keluarga menjadi tempat di mana Roh Kudus hadir dan di mana keselamatan bagi anggota keluarga diwujudkan (lihat 1 Korintus 7). Maka sangat masuk akal bahwa keluarga telah menjadi target utama dari kejahatan. Setelah keluarga hancur, baik masyarakat dan Gereja menjadi sangat lemah. Pemahaman yang benar adalah setiap orang membutuhkan keluarga untuk tumbuh menjadi keutuhan psikologis, emosional dan spiritual. Maka ketegangan antara yang ideal dan aktual menemukan keseimbangan dalam keluarga yang sehat (bnd. 3 Yohanes 1:2).
1:2 Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.

Istilah “psuche” (jiwa) ini hampir bersinonim dengan “pneuma.” Keduanya digunakan untuk menunjuk pada hakikat kepribadian atau diri. Ini tidak pernah menunjuk pada suatu bagian tersendiri dari manusia (tubuh, jiwa, roh). Manusia adalah satu kesatuan (lih. Kej 2:7). Maka dalam konteks keluarga, kesatuan itu selalu hadir dalam kerangka melengkapi, menjaga keutuhan dan bermuara pada tindakan yang bertanggung jawab.

Pandangan demikian bertumpu pada keyakinan tentang perkawinan sebagai awal terbentuknya keluarga. Pernikahan yang bersifat intim, eksklusif, tak terpisahkan dari kehidupan dan cinta laki-laki dan perempuan dengan desain Sang Pencipta untuk tujuan kebaikan. Persekutuan intim yang hidup dalam cinta: Pernikahan adalah yang paling dekat dan paling intim dari persahabatan manusia. Hal ini melibatkan penyerahan seluruh kehidupan seseorang dengan suami / istri. Pernikahan menjadi panggilan untuk penyerahan diri yang begitu intim dan lengkap dengan pasangan – tanpa kehilangan individualitas mereka – menjadi “satu,” tidak hanya di tubuh, tetapi dalam jiwa.
Kehormatan nama Allah dalam banyak hal, tercermin dalam hidup Anda (Roma 2:24). Karena kita diciptakan menurut gambar-Nya, dan Kristus telah memulihkan kerusakan yang dilakukan oleh dosa. Jadi pernikahan apakah disadari atau tidak dimaksudkan untuk mengungkapkan sifat Allah kepada dunia. Dan ketika orang Kristen menyadari bahwa pernikahan mereka adalah saksi dunia kemuliaan Allah dalam aspek yang paling mendasar dari sifat-Nya, dan ketika mereka berusaha untuk menegakkan citra dengan memenuhi kewajiban perjanjian mereka satu sama lain, mereka memuliakan Allah dan menerima semua berkat yang dijanjikan-Nya.
Dengan pemahaman yang demikian maka ketegangan antara yang idealis dan aktual dapat terus menjadi perhatian keluarga. Keluarga tidak hadir dengan rencananya sendiri namun selalu mewujudkan rencana Allah. Kirchberger (2007: 287) mengemukakan bahwa manusia mendapat makna utama dalam kebersamaan karena diciptakan menurut citra Allah sehingga pada intinya manusia adalah manusia dialogal atau sosial. Artinya bahwa manusia menjadi utuh dalam kesatuannya dan dalam hubungan dengan pasangannya. Hal ini penting sebab hanya manusia membutuhkan cinta dari orang lain supaya ia bisa berkembang sebagai pribadi yang bisa mencintai dan membutuhkan cinta.

2. Keluarga dan persoalan masa kini,
Keluarga Kristen adalah persekutuan anak-anak Tuhan dalam ikatan kasih Allah yang selalu mengarah kepada kehidupan yang baik. Ini berarti setiap keluarga Kristen memiliki tanggung jawab moral untuk selalu menghadirkan nilai-nilai yang kuat dan kokoh di tengah atmosfir hidup yang tidak kondusif. Dewasa ini kita lihat bagaimana setiap keluarga Kristen berjuang untuk senantiasa tampil secara baik sekalipun diperhadapkan dengan tarikan dunia yang merusak nilai-nilai kehidupan mereka. Salah satu prinsip penting dalam menguatkan keluarga adalah menghadapi setiap persoalan dengan terus terang dan jujur. Artinya setiap anggota keluarga yang diperhadapkan dengan pergumulan tidak mengabaikan pergumulan itu tetapi menghadapinya. Degradasi nilai religius perkawinan merupakan persoalan yang tidak dapat diabaikan. Hal ini memberi perubahan pandangan dari perkawinan sebagai lembaga yang menjadi dasar dari hidup yang bertanggung jawab menjadi alat untuk mengejar kebahagiaan, pemenuhan kebutuhan diri dan relasi. Pada titik ini, hak seseorang lebih mendapat perhatian dibandingkan dengan kewajibannya.
Disisi lain penolakan kepada istri yang bekerja menunjukkan bahwa istri pada masa kini tidak hanya berada di wilayah domestik tetapi juga mengalami perubahan dalam peran sebagai seorang perempuan. Inilah yang disebut oleh Ihromi dalam masyarakat industri (Ihromi,1999:287).
Pengaruh industrialisasi telah menghadirkan suami-istri yang lebih mandiri atau disebut dengan keluarga konjugal yakni keluarga batih yang semakin terlepas dari kerabat luas pihak suami atau istri juga dalam masalah ekonomi dan tempat tinggal (Ihromi,1999:287). Perubahan ini telah menumbuhkan kesadaran pada setiap individu untuk mengembangkan diri dan profesinya secara maksimal. Maka ketergantungan istri terhadap suami tidak lagi menjadi sesuatu yang mutlak, istri tidak lagi harus bersikap menerima saja keputusan suami tetapi istri juga dapat mengambil keputusan karena istri juga berhak atas kebahagiaan dari perkawinannya.
Melalui apa yang telah dikemukakan di atas nampak bahwa kehidupan perkawinan telah berjumpa dengan situasi yang sangat berubah. Perubahan mendasar ini telah memberi kontribusi bagi berkembangnya kesadaran akan keberadaan diri suami-istri. Adanya pergeseran orientasi utama perkawinan untuk membentuk keluarga dan kebahagiaan anak-anak kepada orientasi kebahagiaan hubungan pasangan suami istri dalam perkawinan memberi warna dan pemikiran baru bagi perempuan dalam pemahaman nilai perkawinan.

3. Apakah yang bisa dilakukan gereja?
Gereja dalam panggilan dan pengutusan senantiasa berorientasi pada tindakan memberi tanggapan yang baik (a good responder). Bertolak dari hal di atas maka gereja (baca: gpib) perlu memperhatikan beberapa hal berikut:
a. Pelayanan kategorial sebagai unit missioner membangun pola pelayanan yang utuh dengan muaranya adalah keluarga. Perlu dilakukan pelayanan yang bersifat lintas pelkat.
b. Pelayanan kategorial mewujudkan bentuk pelayanan yang mengarah pada penguatan peran keluarga dengan system yang berjenjang dan bertahap. Artinya setiap bentuk kegiatan selalu dipayungi oleh pemahaman tentang keluarga.
c. Pelayanan pelkat yang dpertajam dengan hadirnya pendeta khusus bidang pelayanan pelkat akan membentuk pola pelayanan yang semakin baik
4. Penutup
Penguatan peran keluarga yang dijabarkan dalam konteks pelkat merupakan upaya yang perlu terus dikembangkan. Fleksibilitas peran pelkat diperlukan agar semakin melengkapi keluarga dalam menjawab karya Allah.
Maju terus bersama Yesus, sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah tidak sia-sia.

TEOLOGI KELUARGA DAN MASYARAKAT

No Response to “TEOLOGI KELUARGA DAN MASYARAKAT”

Comments are closed.

Event Yang Akan Datang

lihat semua event yang akan datang

Jumlah Pengunjung

Ada 2 pengunjung online
October 2017
M T W T F S S
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031