Ibadah Minggu Jam 06:00, 09:00, dan 18.00 WIB. Untuk Pos Ibadah Jam 07:00 WIB

- Tampilkan Lokasi Gereja

Piring Kayu

Sudah 974 kali dilihat

Disebuah keluarga, ada seorang kakek tua yang hidup bersama anak, menantu dan seorang cucu laki-laki. Penglihatan si kakek sudah kabur. Ia sudah tidak dapat mendengar dengan baik. Lututnya sudah mulai bergetar. Jika ia duduk dekat meja makan, ia tidak dapat lagi memegang sendok. Kadang-kadang ia lupa pula sup di atas taplak meja. Dari dalam mulutnya selalu saja sup itu mengalir lagi keluar.

Anak laki-laki dan menantu  perempuannya merasa jijik dengan hal itu. Oleh sebab itu kakek tua itu akhirnya duduk sendirian di sudut, di belakang dekat sebuah tungku api.
Mereka memberi makan hanya dengan mangkok yang kecil.
Ia sering tidak mendapat makan dan minum yang cukup dan tentu saja ia tetap lapar dan haus. Ia melihat apa saja yang ada di meja makan dengan sedih, selanjutnya keluarlah air matanya.

Suatu ketika jemarinya yang sudah tua tidak dapat lagi memegang mangkuk. Mangkuk itu jatuh dan pecah. Menantu perempuannya mengumpat dan mencaci-maki.
Tapi, kakek tua itu tidak berkata sedikit pun. Ia membiarkan semuanya terjadi.
Lalu anaknya itu membelikannya sebuah piring yang terbuat dari kayu dengan harga yang tidak terlalu mahal. Kini dengan piring kayu itu kakek tua itu harus makan. Piring kayu ini dapat membuat si kakek tua lebih tenang karena tidak dapat pecah.

Suatu hari cucunya yang masih berumur empat tahun mengumpulkan batang-batang kayu yang dipungutnya di tepi hutan.”Apa yang sedang kamu buat, Nak ?” tanya ayahnya.”Saya akan membuat sebuah piring kayu ,” jawab anaknya polos, “dengan piring kayu ini, ayah dan ibu akan makan, jika nanti saya sudah besar.”

Sejurus kemudian ayah dan ibunya saling bertatapan dan mereka mulai merasa sedih. Mereka sadar bahwa sikap mereka pada sang kakek adalah warisan kepada anak mereka.  Sejak kejadian itu mereka selalu memapah sang kakek tua ke meja makan, untuk makan bersama. Jika ia lapar atau haus, mereka segera membawakan makanan dan minuman untuknya. Mereka tidak berkata apa-apa, ketika sedikit saja makanan atau minuman tumpah ke lantai. Mereka kini sadar bahwa mereka harus mewariskan nilai-nilai yang baik bagi anak mereka.
Jadi ketika anak menghormati orangtua, itulah warisan yang baik bagi anak. Itulah yang juga akan dialami jika mereka tua kelak.

 

No Response to “Piring Kayu”

Comments are closed.

Event Yang Akan Datang

lihat semua event yang akan datang

Jumlah Pengunjung

Users online class errors:
  • Unable to record new visitor
  • Unable to delete visitors
March 2021
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031