Ibadah Minggu Jam 06:00, 09:00, dan 18.00 WIB. Untuk Pos Ibadah Jam 07:00 WIB

- Tampilkan Lokasi Gereja

Kepemimpinan Yang Membangun Masyarakat

Sudah 1578 kali dilihat

Kepemimpinan Yang Membangun Masyarakat

(Kejadian 1: 28-29)[1]

Pdt. John A. Titaley

 Pembicaraan mengenai kepemimpinan selalu menarik. Menarik karena dua hal. Pertama, rumusan mengenai kepemimpinan dan kedua, pengamalannya. Rumusan mengenai pengertian saja sudah sangat banyak sekali, tergantung dari mana orang melihatnya. Masing-masing sudut pandang punya pengertian sendiri-sendiri. Akan tetapi satu hal yang pasti adalah bahwa kepemimpinan menyangkut kemampuan seseorang atau suatu kelompok orang tertentu untuk menyebabkan orang atau kelompok lainnya melaksanakan apa yang dianggap baik dan berguna bagi kepentingan bersama. Kemampuan tersebut entah disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa apa yang dilakukan itu terbukti memang baik atau berhasil sehingga orang mau mengikutinya, atau juga karena apa yang disampaikan itu sesuatu yang dapat diterima dengan baik oleh orang atau kelompok lain dan karenanya merasa perlu mengikutinya. Ketika orang atau kelompok sudah melakukan apa yang disampaikan, maka itulah kepemimpinan. Intinya, ada sesuatu yang lebih dari yang satu dan karenanya yang lain mengikutinya. Dari sisi ini, sudah tentu yang lebih itu bisa gagasan, akan tetapi bisa juga tindakan atau keteladanan. Adalah mengenai keteladanan inilah kita berbicara tentang hal kedua dari kepemimpinan. Keteladanan adalah wujud nyata dari apa yang seseorang katakan. Tidaklah ada artinya kalau seseorang mengatakan sesuatu itu baik apabila ia sendiri tidak melakukannnya dalam tindakannya sendiri. Mengapa keteladanan ini penting? Keteladanan itu adalah bukti dari ucapan seseorang. Kalau seseorang mengatakan sesuatu itu baik akan tetapi ia sendiri tidak bisa memberi teladan dari kebaikan ucapannya, maka itu bukanlah kepemimpinan. Max Weber mengatakan bahwa seseorang hanya akan bisa diterima legitimasi kepemimpinannya apabila ada claim yang dibuat seseorang, kemudian claim itu dipercaya (belief) oleh orang lain.[2] Oleh karenanya, kepemimpinan butuh kepercayaan. Kepercayaan hanya mungkin terjadi apabila apa yang diucapkan itu dianggap benar dan ternyata terbukti juga benar. Itulah dasar yang kuat bagi kepercayaan. Jadi untuk menunjukkan kepemimpinan seseorang tidak hanya butuh ucapan, tetapi juga tindakan atau keteladanan.

 Dari sisi inilah harus dipahami betapa pentingnya makna kepemimpinan apabila kemudian kepemimpinan ditetapkan sebagai tema tahunan bagi GPIB tahun ini: Kepemimpinan Yang Membangun Masyarakat sebagai tema tahunan 2012-2013. Tema ini ditempatkan dibawah Tema Jangka Pendek II 2011-2016 Membangun Tatanan Kehidupan Masyarakat yang Rukun dan Adil (Roma 15: 5-7).[3] Kalau kedua tema ini dikaitkan, maka dapat dikatakan bahwa dalam melaksanakan Panggilan dan Pengutusan Warga Gerejanya di tahun 2012 ini, GPIB menghendaki warganya melayankan kepemimpinan yang membangun masyarakat yang rukun dan adil. Tahun 2012-2013 ini sebaiknya kegiatan pelayanan dan pengutusan warganya ditujukan untuk  mewujudkan suatu masyatrakat yang rukun dan adil berdasarkan kepemimpinan, baik dalam gagasan maupun dalam keteladanan. Masyarakat yang rukun dan adil dapat dipahami oleh berbagai orang dengan berbagai pemahaman mereka masing-masing. Itru bisa menjadi baik, akan tetapi juga bisa menjadi tidak. Misalnya, rukun itu juga berarti toleran dari yang kecil terhadap yang besar, dari yang lemah terhadap yang kuat atau sebaliknya. Begitu juga mengenai keadilan yang bisa berarti keadilan dari yang paling benar atau paling suci atau paling besar. Adalah dalam perspektif keadaan sepeti inilah, maka dibutuhkan suatu kepemimpinan dalam gagasan dan keteladanan dari Gereja sebagai umat Tuhan yang berada dalam tatanan masyarakat seperti halnya Indonesia ini. Panggilan dan pengutusan GPIB tahun ini adalah melayankan kepemimpinan (claim) dalam gagasan dan keteladanan agar masyarakat dapat memberi keercayaan mereka (belief) mengikutinya.

 Pertanyaannya, kepemimpinan dalam pengertian gagasan dan keteladanan seperti apa yang akan dilakukan? Apakah acuannya? Lalu, apakah acuan seperti itu diamini oleh GPIB sendiri karena diwujudkan dalam tingkah laku GPIB? Kalau benar demikian, apakah itu yang terjadi dalam kehidupan berGPIB selama ini? Setidak-tidaknya, kalau tema seperti ini harus dijadikan acuan GPIB selama satu tahun mendatang, maka GPIB harus menunjukkannya dalam panggilan dan pengutusannya di berbagai medan oleh segenap lapisan GPIB, pada aras sinodal oleh majelis sinode dan berbagai perangkatnya, dan aras jemaat oleh majelis jemaat dengan berbagai perangkatnya.

 Untuk itulah, sumber dari kepemimpinan ini oleh Persidangan Sinode (PS) XIX GPIB ditetapkan terambil dari Kejadian 1: 28-29 yang sudah dikutip di atas. Ayat-ayat itulah yang coba akan dikaji dalam tulisan ini, sehingga semoga dapat dijadikan acuan pelaksanaan Panggilan dan Pengutusan GPIB selama satu tahun ini. Untuk melakukannya akan digunakan pendekatan yang memperlakukan ayat-ayat tersebut sebagai bagian dari tulisan besarnya. Tulisan besar ini akan coba dikaji dari tradisinya lalu akan dikaitkan dengan pemahaman Gereja terhadap tulisan itu dan dikaitkan dengan konteks keberadaan GPIB di tanah air Indonesia.

 Kejadian 1: 1 – 2: 4a dalam tradisi kehidupan bangsa Yahudi

Dalam penelitian sejarah sosial, Kejadian 1: 1 – 24a dipahami sebagai bagian dari suatu dokumen yang ditulis Para Imam Bait Allah II sesudah bangsa Yahudi dibawa kembali dari Pembuangan di Babel oleh Koresh, Raja Persia setelah Persia menundukkan Babelonia Baru sekitar tahun 538 SZB (sebelum zaman bersama).[4] Hal ini terjadi setelah Nebukadnezar pada tahun 586 SZB, dari Babelonia Baru menundukkan Yehuda dan menghancurkan Yerusalem serta Bait Allah yang dibangun Salomo. Penduduk Yehuda, baik yang tinggal di Palestina maupun yang diangkut ke Babelonia Baru sejak saat itu disebut sebagai Yahudi.[5] Bangsa Yahudi kemudian dibedakan antara Yahudi Palestina, yaitu mereka yang tidak diangkut ke pembuangan, dan Yahudi Diaspora, yaitu mereka yang diangkut dari Yehuda ke Babelonia dan mereka yang melarikan diri ke Mesir serta ke berbagai daerah lainnya.

 Setelah Babelonia Baru ditaklukkan oleh Persia sekitar tahun 538 SZB, Persia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya dari Yunani sampai di India. Karena luasnya wilayah kekuasaan itu, maka Persia menjalankan kebijakan pemberian otonomi terbatas kepada wilayah kekuasaannya itu dengan memberi kesempatan para pemuka di wilayah kekuasaannya untuk memerintah sebagai gubernur dari kekaisarannya. Itulah sebabnya dia merasa perlu untuk membawa pula bangsa Yahudi yang dibuang di Babel kembali ke Yerusalem, karena mereka yang dibuang ini adalah para pemuka bangsa Yahudi. Selain Gubernur yang mengurus kehidupan politik, Persia juga menunjuk seorang Imam Besar untuk mengurus kehidupan kultus bangsa Yahudi.[6] Periode yang dimulai dengan gubernur Shesbassar dan memuncak dalam pemerintahan Ezra dan Nehemia menghasilkan dibangunnya kembali Bait Allah yang disebut Bait Allah II dan penetapan kultus baru dengan Buku Hukum (Torat) sebagai acuan kehidupan politik dan keagamaan bangsa Yahudi. Buku Hukum itu yang kini terdapat dalam Kitab-Kitab Kejadian sampai Ulangan. Kumpulan tulisan itulah yang menjadi cikal bakal terjadinya kanonisasi. Ini semuanya terjadi sekitar tahun  458- 398 SZB.[7]

 Dalam periode inilah cerita tentang penciptaan dalam Kejadian 1: 1 – 2:4a tertulis. Cerita penciptaan dibutuhkan dalam tradisi bangsa-bangsa Timur Dekat Kuno untuk melegitimasikan keberadaan mereka sebagai suatu bangsa baru dengan kultusnya yang baru dan tempat mereka dalam sejarah bangsa-bangsa. Tulisan ini dibuat oleh para imam di Bait Allah II itu sehingga tulisan-tulisan ini disebut tulisan para imam dan disingkat dengan huruf P (Priest). Tulisan ini bersama tulisan-tulisan lainnya dalam Buku Hukum yang terdiri dari lima kitab utama, yaitu Kejadian, Keluaran, Immamat, Bilangan dan Ulangan, adalah tulisan-tulisan yang terjadi zaman para Imam ini.[8]

 Kedua ayat dari kitab Kejadian pasal 1 ini adalah bagian dari tulisan para imam ini yang disisipkan ke dalam tulisan yang bernama YE. Kalau sisipan ini ditulis oleh para imam pasca pembuangan di Bait Allah II, maka tulisan itu tidaklah dapat dipisahkan dari kehidupan mereka saat itu.

 Keadaan bangsa Yahudi yang tertinggal di Palestina adalah kacau balau karena tidak ada kepemimpinan ketika mereka dijajah oleh Babelonia Baru. Para pemimpin mereka telah diangkut oleh Nebukadnezar ke Babel. Mereka dapat dikatakan sebagai orang-orang miskin atau rakyat negeri itu sebagaimana digambarkan dalam kitab 2 Raja2 15: 5 dan 24: 12.[9] Dalam bahasa Ibrani mereka dikenal sebagai ammi ha-aretz (jamak dari am ha-aretz).[10] Dalam situasi tanpa kepemimpinan yang jelas dari para pemuka mereka karena telah dibuang ke Babel, rakyat miskin ini melakukan ibadah mereka di Yerusalem di reruntuhan Bait Allah dengan berpusat pada Batu Karang Sakral (Sacred Rock). Termasuk di dalamnya juga terjadi persembahan korban bakaran yang dipimpin oleh imam dengan status yang lebih rendah.

 Situasi Palestina dan Yerusalem yang kacau balau inilah yang kemudian oleh Koresh, raja Persia, diminta untuk ditertibkan oleh gubernur dan imam besar yang diangkatnya setelah Persia mengalahkan Babelonia Baru. Latar belakang sosial, keagamaan dan politik inilah yang dihadapi oleh imam yang dikirim oleh Persia. Ketertiban! Itu hanya bisa dicapai kalau diberlakukan hukum yang tegas yang didukung oleh kultus keagamaan. Dari situasi inilah dapat dipahami kalau gubernur dan imam besar yang diangkat Persia itu melaksanakan tugasnya dalam bidang politik (terbatas) dan keagamaan (tak terbatas) sehingga lahirlah kultus baru dari suatu komunitas baru yang bernama Yahudi dengan pusat ibadah di Bait Allah II, yaitu suatu kultus tanpa raja. Kultus ini berbeda dengan kultus masa Bait Allah yang dibangun Salomo, karena kultus waktu itu adalah kuktus raja.[11]

 Cerita penciptaan dengan demikian adalah cerita tentang dunia tempat hidupnya suatu komunitas dan kultusnya.[12] Dunia itu adalah dunia tempat bangsa Yahudi itu berada. Sedangkan komunitas itu adalah komunitas Yahudi, suatu komunitas yang terbentuk setelah pembuangan ke Babelonia. Sebelumnya, mereka adalah Kerajaan Yehuda setelah Kerajaan Israel (Bersatu) dibawah pimpinan Daud dan Salomo pecah menjadi dua kerajaan kecil, yaitu Israel (Utara) dan Yehuda (Selatan). Ketika Daud menjadi raja atas kerajaan Israel Bersatu untuk pertama kainya, maka dia membutuhkan suatu cerita penciptaan. Cerita penciptaan Daud itu terdapat dalam Kejadian 2: 4b – 3: 24 dan seterusnya.[13]

 Dengan latar belakang ini, baiklah Kejadian 1: 28-29 dilihat lebih lanjut. Penulis cerita ini adalah imam-imam Zadok yang selalu dikaitkan dengan Harun sebagai leluhur mereka.[14] Mereka adalah imam di Yehuda (Selatan) yang berbeda dengan imam-imam Lewi di Utara yang selalu dikaitkan dengan Musa. Pada masa Pasca Pembuangan ini, ada persaingan ketat antara kedua kelompok imam itu dalam merebut peran dalam kultus di Bait Allah II. Persaingan ini dimenangkan oleh imam-imam Zadok sehingga mereka inilah yang menentukan kultus di Bait Allah II ini, termasuk cerita dalam Kejadian 1 ini.

 Kultus yang mereka kembangkan berpusat pada tiga tindakan keagamaan utama, yaitu merayakan hari sabat, menjalani kehidupan dengan makan makanan halal dan mempraktekkan sunat. Ketiga tuntutan ini disimbolkan oleh tiga perjanjian Tuhan, yaitu perjanjian dengan Nuh (Kejadian 9) dengan tanda busur (pelangi) untuk menetapkan makan makanan halal, perjanjian dengan Abraham (Kejadian 17) untuk melakukan sunat dan perjanjian dengan Musa (Keluaran 16) untuk melakukan sabat.[15] Tiga tindakan ritual ini pada gilirannya mengarah kepada konsep kudus yang berkembang pada saat itu bersamaan dengan konsep eskatologi.[16] Pelaksanaan kultus yang demikian diikuti dengan tekanan pada Torat (hukum) berakibat pada kultus yang dikembangkan betul-betul menjadi legalistik.

 Dengan latar belakang kehidupan bangsa Yahudi dan kultus yang mereka kembangkan itulah, Kejadian 1: 28-29 ini dapat dikaji.

 Perikop ini terletak dalam tulisan Kejadian 1: 1 – 2: 4. Dalam cerita penciptaan ini, perlu ditekankan bahwa proses ini bukanlah proses mencipta dari tak ada (ex nihilo) menjadi ada. Dalam ayat 2 dengan tegas dikatakan sudah ada sesuatu akan tetapi sesuatu itu kacau balau (tohu wabohu). Sesuatu itu adalah bumi yang tak berbentuk dan tak berisi. Dengan demikian penciptaan dalam cerita ini adalah proses menetapkan semuanya itu secara teratur pada tempatnya masing-masing. Itu baru bisa dimulai dengan menetapkan terlebih dahulu perbedaan terang dan gelap. Karena keadaan waktu itu gelap, maka yang dibutuhkan adalah terang. Terang diperlukan supaya tercipta satuan waktu, yaitu hari. Dari satu terang dan satu gelap terbentuklah hari. Ukuran hari ini dibutuhkan untuk menunjuk kepada hari ke tujuh ketika Tuhan berhenti dan menguduskannya sebagai sabat. Dari sisi itulah, cerita ini adalah cerita tentang asal usul kultus sabat. Pada hari sabat Tuhan bukannya hanya berhenti bekerja saja, akan tetapi juga menguduskannya.

 Bukan saja sabat yang dituju dari cerita ini. Hal lain yang dituju dengan cerita ini juga adalah keteraturan. Setelah ukuran hari ditetapkan untuk sabat, dipisahkanlah air di atas dan air di bawah melalui cakrawala. Asumsi tentang air di atas nampak dari birunya langit seperti birunya air laut. Melalui pemisahan ini maka terjadilah langit di atas dan daratan di bawah. Langit dan daratan serta air dibawah itulah tempat-tempat bagi berbagai benda langit, dan binatang dan tumbuhan serta manusia hidup. Adalah tentang tempat dan tentang mahluk hidup itulah cerita penciptaan ini terjadi. Hari pertama tercipta terang, hari kedua tercipta cakrawala, hari ketiga tercipta daratan. Ini kemudian diikuti hari keempat berupa benda-benda yang mengisi langit yaitu matahari, bulan dan bintang-bintang, hari kelima berupa mahluk hidup yang mengisi lautan dan udara dan hari keenam berupa mahluk hidup yang mengisi daratan (binatang dan manusia). Lalu pada hari ketujuh Tuhan beristirahat dan menguduskannya. Tujuan cerita ini adalah pengudusan hari sabat oleh semua mahluk yang dicipta di dalam langit dan bumi itu. Itulah tujuan kultik cerita penciptaan.[17]

 Dalam kerangka tujuan kultik inilah perikop Kejadian 1: 28-29 perlu dilihat sebagai upaya para imam Zadok menetapkan kehidupan bangsa Yahudi pasca pembuangan. Seperti sudah dikatakan sebelumnya bahwa kehidupan bangsa Yahudi Palestina pada masa Babelonia Baru sangat kacau akibat tak adanya kepemimpinan yang jelas. Ketika Koresh membawa kembali orang-orang Yahudi, terutama para pemukanya, maka yang diinginkan Persia adalah ketertiban dari masyarakat Yahudi Palestina. Ini sejalan dengan luasnya wilayah kekuasaan Persia yang dari Yunani sampai ke India itu. Wilayah seluas itu hanya dapat dikuasainya dengan menggunakan jasa para pemuka wilayah setempat untuk membantu Persia mengaturnya. Pada pihak para pemuka bangsa Yahudi, kesempatan ini juga digunakan sekaligus untuk menata ulang kehidupan mereka yang terbuang, terhina, tercampur dengan budaya bangsa lainnya. Krisis lainnya yang tidak dapat diingkari lagi adalah ancaman punahnya bangsa Yahudi dan tercampurnya identitas Yahudi akibat perang-perang dan tercampurnya mereka dengan bangsa-bangsa lain, padahal mereka adalah umat Tuhan. Dalam situasi latar belakang keterpurukan seperti itulah kewenangan yang diberikan Koresh kepada mereka telah digunakan secara optimal. Itulah sebabnya mereka merasa perlu untuk merumuskan jati diri mereka dengan jalan mengumpulkan tulisan-tulisan yang dapat menolong mereka menemukan kembali identitas mereka. Ini mereka lakukan dengan jalan mengumpulkan tulisan-tulisan yang sudah disebutkan sebelumnya yaitu tulisan Y, tulisan YE, tulisan nabi-nabi, awal dan kemudian, dan ditambah tulisan mereka sendiri YEP. Itulah awal terjadinya kanonisasi. Diperkirakan pada masa itu telah terkumpul tulisan dari Kejadian sampai Ulangan, bahkan sampai ke 2 Raja-Raja. Itulah ungkapan yang dibuat Matius “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22: 40) Taurat disini adalah Kejadian sampai Ulangan, kitab para nabi adalah Yosua sampai 2 Raja-Raja dan nabi-nabi lainnya.

 Kejadian 1: 28-29

(28) Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (29) Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.”

 Pada hari ketika manusia diciptakan, dihadirkan dalam dunia, hari keenam, yaitu hari terakhir dari proses penciptaan itu, manusia itu diberkati untuk melakukan tugas yaitu beranak cucu dan penuhi bumi dan taklukkan serta berkuasa atas semua mahluk hidup lannya. Manusia diberkati terlebih dahulu. Berkat ini bukan berkat untuk dinikmati manusia sendiri.

 Hal pertama yang dikaruniakan Tuhan kepada bangsa Yahudi adalah bahwa mereka diberkati. Dalam tatanan baru sebagai umat Tuhan, mereka bukan lagi orang yang terkutuk karena pelanggaran mereka di masa lalu sehingga harus dihukum berupa pembuangan ke Babel. Makna dari pembuangan ini adalah bahwa mereka telah melanggar ketentuan dan perintah Tuhan selama mereka memiliki kerajaan, baik Israel Bersatu maupun Yehuda di Selatan sehingga mereka patut dihukum. Bukan Tuhan mereka kalah hebat melawan dewa-dewa Asyur atau Babel. Tuhan mereka tetap adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Bangsa Israel/Yahudilah yang bersalah karena hidup tidak menurut kehendak dan ketentuan Tuhannya sehingga mereka patut mendapat hukuman itu. Para nabi telah mengingatkan mereka agar hidup menurut ketentuan Tuhan, akan tetapi mereka menolak seruan para nabi itu. Pelanggaran mereka yang terbesar adalah mereka tidak memperhatikan sesama bangsa mereka yang lemah, miskin dan tak mampu. Bahkan mereka yang berkuasa, mereka yang mampu, malah memeras dan menindas yang lemah tadi dengan berbagai cara, termasuk memanipulasi jalur hukum (peradilan) pula. Alam berserta segala isinya (binatang dan tumbuh-tumbuhan) terasa kurang cukup sehingga harus ditumpuk sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, kalau perlu dengan kekerasan. Akibatnya, yang lemah kalah dalam perjuangan hidup secara struktural. Ibadah-ibadah mereka karenanya juga tidak berkenan kepada Tuhan. Apa artinya ibadah kepada Tuhan kalau hidup sehari-harinya penuh dengan penindasan dan kecurangan terhadap yang lemah? Dari sisi itulah para nabi telah mengingatkan mereka, akan tetapi mereka tetap ingkar. Berbeda dengan tatanan hidup mereka yang lama, dalam tatanan hidup mereka yang baru, mereka diberkati terlebih dahulu.  Berkat yang diberikan kepada mereka adalah dasar kokoh bagi mereka untuk tidak perlu lagi khawatir akan kehidupan mereka. Mereka sudah diberkati. Hidup sebagai orang yang telah diberkati pada “penciptaan” yang baru itulah yang mereka gambarkan dalam awal dari Kidung Bait Allah II, Mazmur 1: 3. “Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” Itu juga ditegaskan dalam Mazmur kontemplatif mereka atas kehidupan manusia, Mazmur 119: 1.

 Berkat ini adalah berkat sebagai dasar untuk melakukan tugas yang diberikan Tuhan kepada mereka, yaitu berkembang biak dan bertambah banyak. Kalau konteks bangsa Yahudi dipahami pada waktu itu, maka berkembang biak dan bertambah banyak adalah kebutuhan mereka setelah mengalami keterpurukan dan kehancuran akibat penjajahan dan penghancuran pada masa Babelonia Baru itu. Kebutuhan ini terutama dikaitkan dengan keberadaan mereka sebagai umat Tuhan yan terancam punah dalam penjajahan Babelonia Baru itu. Percampuran budaya dengan bangsa Babel mengancam kemurnian keberadaan mereka. Itulah sebabnya upaya menambah jumlah bangsa Yahudi adalah kebutuhan mendesak. Sunat diterapkan secara ketat pada masa ini agar para laki-laki tetap setia kepada tua-tua sukunya dan keYahudian pada umumnya. Melalui sunat para laki-laki itu dituntut untuk menuruti perintah dan tuntunan tua-tuanya yang telah melakukan sunat atas laki-laki itu agar mereka tetap menjadi bangsa Yahudi, umat Tuhan. Para laki-laki ini mempunyai peran penting dalam kehidupan bangsa Yahudi. Mereka adalah penerus bangsa Yahudi itu. Kalau mereka menikah dengan perempuan yang bukan bangsa Yahudi, maka kecenderungan bahwa mereka akan menyembah dewa dan ilah isteri-isteri mereka begitu besar, sehingga mereka akan hilang dari komunitas Yahudi.[18] Juga termasuk di dalam hal menjaga kemurnian bangsa Yahudi ini adalah pelarangan menikah bagi laki-laki Yahudi dengan perempuan bangsa lainnya agar kemurnian mereka sebagai bangsa Yahudi tetap dipertahankan. (Ezra10) Inilah pola kehidupan dari orang yang telah diberkati.

 Perintah taklukanlah bumi dengan segala isinya adalah mandat baru setelah sebelumnya sebagai bangsa Israel mereka telah gagal memanfaatkan semua peluang yang diberikan. Kehidupan lama mereka adalah kehidupan yang hanya mementingkan diri mereka sendiri tanpa memperhatikan sesama mereka yang lemah dan miskin. Bumi dengan segala isinya yang diberikan Tuhan kepada mereka, mereka manfaatkan bagi diri mereka sendiri secara berlebihan tanpa memperhatikan sesama mereka, sehingga terjadilah hukuman Tuhan berupa pembuangan ke Babel.

 Dalam tatanan yang baru, bumi dan segala isinya telah ditata ulang Tuhan dengan tertib, masing-masing pada tempatnya. Langit dibuat kemudian benda-benda langit dan burung-burung di udara ditempatkan pada tempatnya; air di bawah langit dipisahkan dari daratan supaya ikan-ikan bisa ditempatkan kembali secara teratur di dalam air, lalu binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan ditempatkan di atas tanah (daratan); dan terakhir manusia yang ditempatkan dengan mandat khusus. Punya tujuan kehidupan manusia dalam tatanan baru ini. Dengan ketertiban ini, manusia diharapkan juga menjadi tertib.

 Ketertiban yang dimaksud adalah ketertiban dalam memanfaatkan semua yang telah disedikan Tuhan dengan teratur dan tertib. Manusia tidak merasa perlu khawatir akan kekurangan dalam memenuhi kebutuhannya. Tuhan telah menyediakan semuanya secara teratur. Kalau manusia bisa mengendalikan dirinya dan menguasai serta menafaatkan semua yang telah tersedia itu dengan teratur dan tertib sebagai orang yang telah diberkati, maka hidup manusia tak akan pernah kekurangan. Alam dan isinya selalu tersedia bagi manusia selama manusia juga memanfaatkannya (menaklukkannya) secara tepat. Apabila manusia telah memanfaatkan (menaklukkan) alam dengan segala isinya secara tidak tertib, demi kepentingan dirinya sendiri dan keturunan-keturunannya tanpa ada batasnya, maka pada waktu itulah awal dari perkara yang ditimbulkan manusia dengan alamnya. Akibatnya, terjadilah kekacauan (tohu wa bohu).[19] Itulah yang dihadapi bangsa Yahudi ketika mereka kembali dari pembuangan dan mendapatkan kehidupan di Palestina yang kacau dan tidak tertib. Ini berlaku tidak hanya pada Yahudi Palestina yang miskin dan terpuruk (am ha aretz – anak negeri itu), akan tetapi juga bagi Yahudi Diaspora yang mengalami krisis identitas mereka setelah berjunpa dengan kebudayaan dan tradisi bangsa Babel yang menjajah mereka, serta kawin mawin dengan perempuan-perempuan bukan Yahudi.

 Kehidupan yang demikian sudah tidak lagi menjadi berkat, akan tetapi telah menjadi kutuk. Itulah sebabnya dalam tatanan yang baru ini, mereka diberkati terlebih dahulu. Mereka diberkati agar dapat memaknai kehidupan mereka secara baru. Ini adalah suatu kehidupan yang menaklukan alam serta segala isinya bagi kemuliaan Tuhan. Disebut demikian karena tatanan yang baru itu kalau dijalani secara teratur dan tertib, maka manusia akan dapat memnuhi semua kebutuhannya secara baik. Karena itulah manusia harus mengendalikan semua yang telah tersedia itu kepada Tuhan yang telah menyediakannya bagi mereka lewat hidup sebagaimana dikehendaki Tuhan.

 Tuhan berhenti pada hari ketujuh memberkati dan menguduskannya (Kejadian 2: 3), Inilah puncak dari tatanan hidup baru bangsa Yahudi, yaitu kehidupan yang pada akhirnya menjadikan kehidupan mereka sebagai suatu bangsa yang kudus. Hal itu mereka wujudkan lewat perayaan sabat Tuhan, ketika mereka berhenti bekerja, beribadah kepada Tuhan mereka dan menguduskannya. Ada waktu berhentinya, ada waktu istirahatnya. Bukannya usaha tanpa batas. Bukan menumpuk harta kekayaan tanpa batas, karena hidupnya sudah diberkati.

 Itulah gambaran kehidupan (blue print) bangsa Yahudi sebagai bangsa baru, dengan kultus sabat mereka yang baru yang berpusat di Bait Allah II. Ini kultus yang berbeda dengan kultus di Bait Allah I sebagai bangsa Israel, yaitu kultus raja (royal cult).[20]

 Karena itulah semua, maka sebagai bangsa Yahudi yang baru dengan dengan kultusnya sabat di Bait Allah II di Yerusalem itu, maka suatu serita penciptaan baru perlu dibuat untuk melegitimasi keberadaan mereka itu.[21]

 Demikianlah makna Kejadian 1: 28-29 sebagai bagian dari Kejadian 1: 1 – 2: 4a dalam tradisi bangsa Yahudi.

 Memahami Kejadian 1: 28-29 Sebagai Sumber Gagasan Kepemimpinan GPIB

Kalau perikop itu hendak dilihat GPIB sebagai sumber gagasan kepemimpinan yang membangun masyarakat di Indonesia, maka terlebih dahulu harus ditetapkan titik tolak Kristiani untuk itu. Titik tolak ini tidaklah bisa lain dari pada fenomen Yesus Kristus (Yesus Tuhan). Dari sisi inilah tema tahunan 2011 GPIB adalah pintu masuk yang tepat “Manusia Baru Yang Terus Menerus Diperbarui.” Pemahaman terhadap Manusia Baru ini adalah khas Paulinian. Karenaya tema itu hanya bisa dipahami kalau tulisan-tulisan Paulus dikaji. Dari surat menyurat Paulus dengan jemaat di Korintus, terbuka pintu masuk yang baik, yaitu 1 Korintus 12: 3 “Karena itu aku mau meyakinkan kamu bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: ‘Terkutuklah Yesus!’ dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: ‘Yesus adalah Tuhan,’ selainn oleh Roh Kudus.” Paulus menulis seperti itu berdasarkan pengalamnnya sendiri. Ketika masih bernama Saulus, ia adalah seseorang yang menindas para pengikut Kristus karena pengakuan mereka bahwa Yesus adalah Tuhan (Mesias) yang disalibkan, padahal Mesias yang dinantikan bangsa Yahudi haruslah menjadi penerus tahta Daud dan tidak mati disalibkan. Oleh karenanya Yesus seperti yang diakui para pengikutNya adalah terkutuk. Dalam pemahaman Paulus orang yang mengutuk Yesus seperti itu tidak memiliki Roh Allah. Sebaliknya ia menjadari bahwa ia bisa menjadi Paulus karena ada pekerjaan Roh Kudus sehingga mulutnya bisa mengakui bahwa ‘Yesus adalah Tuhan.’ Pengakuan itulah yang menurutnya telah membuatnya menjadi manusia baru, ciptaan baru. Pemahaman terhadap Yesus sebagai Tuhan (Mesias: Ibrani) hanya bisa terjadi karena ada Roh Kudus yang bekerja di dalam diri orang tersebut. Pengakuan Yesus adalah Tuhan itulah yang telah menciptakan suatu umat Kristus yang baru, yaitu Gereja. Gereja dengan demikian adalah buah-buah pekerjaan Roh Kudus.

 Dalam perspektif pemahaman Gereja yang demikian itu, maka dari Kejadian 1: 28-29 dapat dikatakan bahwa manusia yang diciptakan pada hari keenam yang diberkati itu adalah manusia baru di dalam Yesus Kristus itu. Berkat yang diberikan Tuhan bagi bangsa Yahudi, adalah pekerjaan Roh Kudus yang menghasilkan manusia baru, (pen)ciptaan baru yang adalah Gereja Tuhan. Manusia baru, (pen)ciptaan baru itulah yang harus memperlakukan (menaklukan) bumi dan segala isinya (mahluk hidup dan alamnya) sebagai suatu ibadah bagi kemuliaan Tuhan pada hari kebangkitan Yesus Kristus. Sebagaimana halnya bangsa Yahudi adalah suatu ciptaan baru lewat cerita Kejadian 1: 1 – 2: 4a, maka Gereja juga adalah (pen)ciptaan baru di dalam Kristus yang terpanggil untuk menatalayani alam dengan segala isinya sebagai suatu ibadah, yang memuncak dan bermuara pada pengakuan “…’Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah Bapa (Filipi 2: 11). Alam dan segala isinya haruslah dilihat juga sebagai yang telah disediakan Tuhan bagi manusia yang harus memanfaatkannya (menaklukannya) sebagai karya Tuhan bagi kebutuhannnya sebagai orang yang dikuasai oleh Roh Tuhan. Dalam bahasa Paulus, tidak dikuasai oleh keinginan daging (sarx). Roh itulah yang dapat menguasai roh manusia (Roma 8: 16) untuk mengendalikan keinginan daging sehingga alam dan isinya tidak dikuras secara kedagingan, tetapi bagi kemuliaan Tuhan.

 Kepemimpinan Yang Melayani Masyarakat

Demikianlah visi kepemimpinan yang telah ditetapkan GPIB bagi pelaksanaan tema tahun 2012. Masalahnya, bagaimana gagasan dan keteladanan yang harus dilayankan GPIB bagi masyarakat? Sebagai komunitas yang terbentuk oleh kuasa Roh Kudus secara rohani, maka buah-buah roh itu harus nampak pertama-tama dalam diri setiap warga GPIB. Itu nampak ketika warga itu menyatakan sikapnya terhadap hakikat hidup dan kebutuhan kehidupannya, terutama ketika roh kudus berhasil mengendalikkan roh kemanusiaannya sehingga keinginan-keinginan daging itu bukan menjadi tujuan utama dalam kehidupannya. Sikap mendasar ini pada gilirannya akan berakibat yang besar terhadap sikapnya atas alam dan segala isinya. Kalau seorang warga GPIB sudah bisa memulai sikap yang demikian, maka GPIB dapat menjadi contoh bagi masyarakatnya. Itulah kepemimpinan GPIB bagi Masyarakat.

 Dalam masyarakat tempat GPIB hadir baik di kota maupun di desa, GPIB harus dapat merealisasikan pelayanannya yang rukun dan adil karena semua warga masyarakatnya mendapat perlakuan yang sama baik dalam kebutuhan ekonomi, sosial, maupun politiknya. GPIB terpanggil utuk menunjukkan kepemimpinannya dimanapun dia berada dan ditempatkan. Ketika masyarakatnya berada dalam situasi keterbatasan atas sumber daya alami, disitulah GPIB terpanggil untuk menunjukkan kepemimpinannya, baik dalam gagasan maupun dalam keteladananannya. Ketika masyarakatnya yang lemah diperlakukan tidak secara wajar, GPIB terpanggil untuk menghadirkan kepemimpinannya. Ketika masyarakatnya sedang memamerkan suatu kehidupan yang tidak lagi dapat membedakan antara yang baik dan buruk, benar dan salah disitulah GPIB terpanggil untuk menunjukkan kepemimpinannya. Paling tidak di dalam dirinya sendiri terlebih dahulu, melalui mendidik dan mempersiapkan warganya supaya bisa hadir dalam masyarakat lewat kepemimpinan yang jelas. Acuannya adalah masyarakat rukun dan adil berdasarkan perspektif (pen)ciptaan yang baru.

 Indonesia bagian Barat dan Indonesia pada umumnya kini sedang berada pada titik yang paling rendah dalam mewujudkan suatu masyarakat yang rukun dan adil. Pertanyaannya, sebagai suatu (pen)ciptaan yang baru, kepemimpinan seperti apa yang telah ditunjukkan GPIB pertama-tama di dalam dirinya, kemudian kepada masyarakatnya?

 Yehuda dibuang ke Babel dan Bait Allah dihancurkan karena mereka tidak memperhatikan sesame mereka yang lemah, bahkan menindas dan memeras yang lemah sehingga ketetapan Tuhan telah mereka langgar. Bagaimana GPIB ditengah kehidupan bangsa dan negara Indonesia?

 Setelah mengalami pengkajian ekklesiologi-misiologi dan konteks masa kini dan masa depan serta pertimbangan manajerial, maka dilakukan upaya perelevansian PKUPPG Jangka Panjang II melalui pendekatan sebagai berikut :

Fungsi Utama Gereja

Penunjang

1. Persekutuan 1. Sumber Daya Insani
2. Pelayanan 2. Dana
3. Kesaksian 3. Fasilitas
4. Sistim Informasi

 Dengan memperhatikan tujuan dan sasaran, jangka waktu  dan langkah- langkah strategis untuk mencapai tujuan maupun sasaran maka untuk KUPPG 5 (lima) tahun ditetapkan pokok-pokok program.

 Adapun pokok-pokok program disesuaikan dengan 6 (enam) bidang kegiatan pada PKUPPG Jangka Panjang II, yaitu :

  1. TEOLOGIA, meliputi bidang Iman, dan Ajaran, Ibadah dan Musik Gereja serta Pengkajian Teologi.
  2. PELAYANAN dan KESAKSIAN (PELKES), meliputi bidang Pengembangan dan Penatalayan Pos Pelkes, PMKI, Diakonia Crisis Centre (Penanggulangan Bencana SATGAS BENCANA).
  3. GEREJA, MASYARAKAT dan AGAMA-AGAMA (GERMASA), meliputi bidang Keesaan Gereja (Oikumene), Kemasyarakatan: HAM, Hukum, Lingkungan Hidup, dan Lintas Agama-agama (hubungan agama lain)
  4. PEMBINAAN dan PENGEMBANGAN SUMBER DAYA INSANI serta PENINGKATAN PERANAN KELUARGA (PPSDI – PPK), meliputi bidang Pembinaan dan Pengembangan Warga Gereja (Warga Jemaat, Kategorial dan Presbiter), Peningkatan Peran Keluarga (Bapak, Ibu, Pemuda Teruna dan Anak), Kelompok Profesi dan Fungsional, Pendidikan serta Pengembangan Personalia GPIB.
  5. PEMBANGUNAN EKONOMI GEREJA, meliputi bidang Keuangan (perbendaharaan dan akuntansi), Daya dan Dana, Pemanfaatan dan Pengembangan Harta Milik Gereja, Badan Usaha/Badan Hukum GPIB.
  6. INFORMASI, ORGANISASI dan KOMUNIKASI (INFORKOM) meliputi bidang Sistim Informasi Manajemen (SIM), Perencanaan Organisasi dan Komunikasi serta Penelitian dan Pengembangan (LITBANG).

Uraian sesuai bidang / program atas KUPPG tersebut setiap tahun dibijaki melalui Persidangan Sinode Tahunan (PST), yang akan menetapkan Program Kerja / Kegiatan dan Anggaran Penerimaan dan Pengeluaran tahunan tingkat sinodal.

 


[1] Disampaikan dalam Persidangan Sinode Tahunan (PST) Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) tanggal 24 Februari 2012 di Medan.

[2] Max Weber, Economy and Society. Edited by Guenther Roth and Claus Wittich (Berkeley: University of California Press, 1978), 212-4.

[3] MS GPIB, Pokok-Pokok Kebijakan Umum Panggilan dan Pengutusan Gereja (PKUPPG) Buku II & Akta Gereja GPIB Buku I, 1B (Jakarta: Majelis Sinode GPIB, 2010), 44.

[4] Ibid., 500.

[5] Ibid., 410.

[6] Cerita tentang hal ini dapat dibaca dari kitab-kitab Ezra dan Nehemia.

[7] Norman K. Gottwald, Hebrew Bible . . . ., 436-7.

[8] Tulisan-tulisan ini bukanlah tulisan baru seluruhnya, karena sebelumnya telah ada tulisan-tulisan dari kitab Kejadian, Keluaran dan Bilangan dengan versi yang lebih pendek sebelum disisipkan versi dari zaman para imam ini. Versi awalnya adalah versi yang ditulis pada zaman Kerajaan Israel berada dibawah pemerintahan Daud dari Yehuda (Selatan) sebagai raja pertama. Karena dalam  tulisan pertama ini nama yang digunakan untuk menyebut Yang Maha Kuasa itu adalah Yahweh, maka tulisan ini disingkat dengan huruf Y. Tulisan yang disebut Y ini kemudian ditambahkan dalam bentuk sisipan lagi setelah Kerajaan Israel pecah menjadi dua, yaitu Kerajaan Israel (Utara) dan Yehuda (Selatan). Orang Utara menyisipkan dalam tulisan Y ini, hal-hal yang menurut mereka benar dan perlu. Karena nama Yang Maha kuasa itu oleh orang Israel Utara ditulis dengan nama Elohim, maka sisipan itu disebut dengan huruf E. Sisipan itulah yang kemudian membuat tulisan Y yang awal itu menjadi YE. Tambahan sisipan dari imam terhadap tulisan YE sehingga menjadi YEP. Sisipan dari E diantaranya berupa cerita yang lebih detil tentang mimpi-mimpi Yusuf dan cerita lainnya. Sedangkan sisipan dari P diantara seperti tulisan Kejadian 1:1 – 2: 4a yang sedang dibahas ini. Untuk membaca lebih lanjut tentang sisipan Israel Utara dan para Imam ini, lihat dua buku terjemahan yang diterbitkan BPK Robert B. Coote, Demi Membela Revolusi: Sejarah Elohist (Jakarta: BPK GM, 2011) dan Robert B. Coote dan David Robert Ord, Pada Mulanya: Penciptaan dan Sejarah Keimaman (Jakarta: BPK GM, 2011).

[9] Norman K. Gottwald, Hebrew Bible . . . ., 424-5.

[10] Obery M. Hendricks Jr., The Politics of Jesus: Rediscovering The True Revolutionary Nature of the Teachings of Jesus and How They Have Been Corrupted, (New York: Doubleday, 2006), 71-3.

[11] Bait Allah II itu di kemudian hari membutuhkan kidung baru. Itulah dasar maka mazmur-mazmur di kumpulkan antara tahun 350 – 25 SZB sebagai Kidung Bait Allah II. Lihat Norman K. Gottwald, Hebrew Bible. . . ., 525.

[12] Robert B. Cote and David Robert Ord, In The Beginnning: Creation Stories and the Priestly History, (Minneapolis: Fortress Press, 1991), 19.

[13] Lihat tentang cerita penciptaan ini dalam Robert B. Coote and David Robert Ord, The Bible’s First History: From Eden to the Court of David with the Yahwist, (Philadelphia: Fortress Press, 1989. Perlu dicatat bahwa perlunya cerita seperti ini sudah biasa di masyarakat Timur Dekat Kuno, terutama bagi kerajaan-kerajaan yang baru muncul. Dia membutuhkan legitimasi keberadaannya dalam panggung sejarah dunia. Sebagai bahan perbandingan saja, cerita penciptaan yang terdapat dalam Kejadian pasal 1 ini oleh masyarakat Yahudi pada Abad Pertengahan ZB ditetapkan sebagai awal dari kalender Yahudi yang kalau dirunut dalam kesejajaran dengan kalender ZB bersama ini jatuh pada tahun 3760 SZB. Lihat Norman K. Gottwald, Hebrew Bible. . . ., 295. Kini kalender Yahudi itu memasuki tahun 5772. Kalau demikian pemahaman bangsa Yahudi tentang awal dunia, bagaimana dengan pengetahuan manusia modern tentang usia bumi yang diperkirakan sudah berusia jutaan tahun. Karenanya, kalau cerita penciptaan dipahami dalam tradisi bangsa Timur Dekat Kuno seperti disebutkan sebelumnya, maka bisa dipahami maksud cerita itu dengan baik.

[14] Robert B. Cote and David Robert Ord, In The Beginnning: . . . ., 38.

[15] Ibid., 43.

[16] John Titaley, Menuju Teologi Agama-Agama yang Kontekstual (Salatiga: Fakultas Teologi UKSW, 2001), 19.

[17] Robert B. Cote and David Robert Ord, In The Beginnning: . . . ., 32.

[18] Itulah yang terjadi dengan Salomo ketika ia memiliki 700 isteri dan 300 gundik sehingga “mereka menarik hatinya dari pada TUHAN.” 1 Raja-Raja 11: 3).

[19] Dari sisi ini, pemikiran seperti ini sangatlah bertentangan dengan keserakahan dalam kapitalisme modern yang selalu mencari keuntungan sebanyak-banyakya. Krisis kapitalisme global beberapa tahun terakhir ini akibat keserakahan  para eksekutif yang menuntut gaji besar-besar tanpa batas, serta eksploitasi sumber daya alam sehebat-hebatnya stanpa mengenal batasnya sehingga menimbulkan krisis lingkungan yang parah akhir-akhir ini adalah wujud dari ketidaktertiban manusia menaklukkan alam dan segala isinya itu.

[20] Kultus ini dikembangkan Daud ketika ia menjadi raja atas seluruh Israel, baik Yehuda maupun Israel. Mazmur 2 menggambarkan dengan baik kultus raja ini ketika raja diangkat sebagai Anak Tuhan (Yahweh). Cerita penciptaan dalam Kejadian 2: 4b – 3: 24 adalah legitimasi bagi kerajaan Daud itu.

[21] Dari sisi inilah dapat dipahami apbila Yesaya 65-66, yaitu Yesaya yang hidup pada zaman pasca-pembuangan dan restorasi Bait Allah II berbicara tentang Langit Baru dan Bumi Baru.

TATA KALA

KUPPG JANGKA PANJANG II  2006-2026

KUPPG JANGKA PENDEK I 2006-2011

Tema Sentral :

Yesus Kristus Sumber Damai Sejahtera (Yohanes
14:27)

 

Tema PKUPPG Jangka Pendek I 2006-2011:

Mempersiapkan Masa Depan Bangsa Yang Damai
Sejahtera Dengan Sikap Tulus Dan Jujur (Mazmur 37;37)

 

URAIAN

2006-2007

2007-2008

2008-2009

2009-2010

2010-2011

 

Tema Tahunan

Membangun Masa Depan
Dengan Sema-ngat Pendamai-an dan Pemu-lihan Dalam Yesus Kristus. (Roma 15:7)

Melayani Dalam Ke-tulusan
dan Kejujuran (Mazmur 25 : 21)

Bersaksi Dalam Ke-kuatan
K-sih Karunia Allah.(II Korintus 1 : 2)

Roh Kudus Memberi Damai
Sejahtera dan Sukacita.(Roma 14:12-23)

Membangun Masa Depan
Bersama Roh Kudus.

(I Korintus 14:12)

Tujuan / Sasaran

 

 

 

 

 

Bidang Prioritas

 

 

 

 

 

Kegiatan Pokok

PST I – Yogyakarta

Konven Pendeta GPIB

PST II

Pemilihan Penatua / Diaken

-Porseni BPK-PKB

PST III

Konsultasi Teologi

Penyusunan draft Randas

PST IV

Penyusun

an Draft Ra-num

-Konven Pdt GPIB

PST V

PS  XIX – Kaltim I

Kegiatan Eksternal

Sidang MPL PGI – Riau

Sidang MPL PGI

Sidang MPL PGI

Pemilu

Sidang Raya PGI

Sidang MPL PGI

Sidang CCA

 

 

PKUPPG
JANGKA PANJANG II, 2006-2026

KUPPG
JANGKA PENDEK II, 2011-2016

KEGIATAN
POKOK LIMA TAHUN

 

Tema
Sentral:

Yesus
Kristus Sumber Damai Sejahtera (Yohanes 14:27)

 

Tema KUPPG
Jangka Pendek II, 2011-2016:

Membangun
tatanan kehidupan masyarakat yangg rukun dan adil

(Roma
15:5-7)

 

URAIAN

2011-2012

2012-2013

2013-2014

2014-2015

2015-2016

Tema tahunan

Manusia
Baru yang terus menerus dibaharui (Efesus 4:23-24)

Kepemimpinan
yang membangun masyarakat  (Kejadian 1:28,29)

Kemitraan
dan kesetaraan demi kesetiakawanan sosial (Galatia 3:28)

Membangun
kemitraan antar  umat demi keselamatan bangsa (Roma 8:28)

Menata
alam secara adil demi kelangsungan hidup sejahtera (Mz. 8:6-9)

Tujuan/

Sasaran

 

 

 

 

 

Bidang

Prioritas

TEOLOGI,

PEG

PPSDI-PPK

PELKES

INFORKOM

GERMASA

TEOLOGI,

PPSDI

Kegiatan

Pokok

PST I

Medan

Konven

Pendeta

GPIB

PST II

Pemilihan

Penatua /

Diaken

PST III

Konsultasi

Teologi

Penyusunan

Draft Randas

PST IV

Penyusunan

Draft Ranum

Konven

Pendeta GPIB

PST V

PS XX

Kegiatan

Eksternal

Sidang
MPL

PGI

Sidang
MPL

PGI

Sidang
MPL

PGI

Pemilu

Sidang
Raya

PGI

Sidang
MPL

PGI

Sidang
CCA

 

 

 

 

 

 

 

No Response to “Kepemimpinan Yang Membangun Masyarakat”

Comments are closed.