Ibadah Minggu Jam 06:00, 09:00, dan 18.00 WIB. Untuk Pos Ibadah Jam 07:00 WIB

- Tampilkan Lokasi Gereja

KEPEMIMPINAN KRISTEN

Sudah 922 kali dilihat

KEPEMIMPINAN KRISTEN

1 Petrus 2:9

Pdt. Alexius Letlora, M.Min

gambar-2

Pendahuluan.
Panggilan dan pengutusan umat Tuhan selalu ditempatkan dalam bingkai “memberitakan” perbuatan-perbuatan Allah yang besar (1 Pet.2:9). Perbuatan Allah yang besar adalah mengasihi manusia, bukan sebagai pilihan tetapi sebagai hakekat Allah yang adalah Kasih. Bertolak dari gagasan ini maka setiap manusia yang mengalami karya penyelamatan Allah didalam Yesus Kristus menjadi manusia baru yang terus menerus diperbarui guna menjawab kasih-karunia Allah.

Pembaruan ini mengkristal di semua lini kehidupan manusia sehingga manusia menjadi wahana bagi kemuliaan Allah yang menyatakan karya-Nya secara berkelanjutan. Inilah manusia yang dipercaya mengelola dan menata karya ciptaan Allah dalam kerangka menghadirkan damai sejahtera secara menyeluruh.

Hubungan antara manusia baru dan kepemimpinan Kristen yang saling melengkapi akan memberi makna pada kepemimpinan itu sendiri. Disinilah ketrampilan teknis seorang pemimpin dikendalikan oleh motivasi sehingga memiliki orientasi sebagaimana disebut oleh Eka Darmaputera sebagai kepemimpinan dengan ‘God oriented’ dan juga ‘Others oriented’ .

Yesus adalah model yang sempurna tentang motivasi kepemimpinan yang bermuara pada dua ranah penting yakni memuliakan Allah dan menjumpai sesama.

A. PANDANGAN UMUM TENTANG KEPEMIMPINAN.

Pengertian tentang arti dan hakekat kepemimpinan sangat penting bagi seorang pemimpin. Sebab sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, kepemimpinan yang dipraktikkan seorang pemimpin akan diwarnai oleh pemahaman internalnya tentang arti kepemimpinan itu sendiri. Demikian pula seorang pemimpin Kristen, pola kepemimpinannya akan ditentukan oleh pemahaman dan penghayatannya tentang arti kepemimpinan itu sendiri. Jika makna kepemimpinan sekuler yang dihayatinya, maka sekalipun ia dikenal sebagai “pemimpin Kristen” tetapi sesungguhnya praktik kepemimpinannya bukan “kepemimpinan Kristen” Sebaliknya, jika ia menghayati dan menerapkan kepemimpinan yang berbasis ajaran Kristiani-berlandaskan perspektif Alkitab-maka kepemimpinannya layak disebut kepemimpinan Kristen.

1. Arti pemimpin.
Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan. Mengutip Henry Pratt Fairchild, Kartini Kartono mengatakan, pemimpin dalam pengertian luas, seorang yang memimpin, dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, menunjukan, mengorganisir atau mengontrol usaha/upaya orang lain, atau melalui prestise, kekuasaan, atau posisinya. Dalam pengertian terbatas, pemimpin adalah seorang yang memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya, dan akseptansi/penerimaan secara sukarela oleh para pengikutnya . Berdasarkan beberapa definisi dari kata “pemimpin”, Kartini Kartono mendefinisikan pemimpin sebagai pribadi yang memiliki kecakapan khusus, dengan atau tanpa pengangkatan resmi dapat mempengaruhi kelompok yang dipimpinnya, untuk melakukan usaha bersama mengarah pada pencapaian sasaran-sasaran tertentu .

Robins mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah sebuah tindakan mengatasi perubahan dengan menetapkan arah melalui pengembangan visi, kemudian menyelaraskan visi tersebut dengan anggota organisasi melalui komunikasi dan member inspirasi untuk mengatasi rintangan (overcome hurdles) . Untuk mencapai tujuan bersama tersebut seorang pemimpin memilki kuasa yang bersumber secara formal dari posisi yang dijabatnya, sekalipun demikian hal ini tidak bisa diandalkan sebagai satu – satunya sumber kuasa sebab dewasa ini dibutuhkan pemimpin dengan kekuatan untuk menciptakan visi, tidak puas dengan status quo dan selalu menggerakkan anggota dari dalam .

2. Gaya Kepemimpinan.
Secara umum terdapat banyak teori tentang gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan dengan aspek psikologi Erich Fromm hingga gaya kepemimpinan sebagaimana diungkapkan oleh Rensis Likert (eksploitatif, otoritatif, konsultatif maupun partisipatif ) semua bermuara pada relasi antar personal yang memberi diri sebagai pemimpin maupun pengikut.


B. PANDANGAN FIRMAN TUHAN TENTANG KEPEMIMPINAN.

Kepemimpinan dalam perspektif Firman Tuhan senantiasa diwarnai dengan gema yang kuat bahwa hanya Allah yang menjadi pemimpin. Firman Tuhan senantiasa mengarahkan setiap pemimpin dalam konteksnya untuk menempatkan Allah dipusat kepemimpinan mereka.
Dasar teologis-filosofis yang harus dipahami dan harus ada pada seorang pemimpinan Kristen ialah:
1. Pemimpin Kristen harus memahami dasar kepemimpinan Kristen bahwa ia terpanggil sebagai – “pelayan-hamba” (Makus 10:42-45). Sebagai pelayan, pemimpin terpanggil kepada tugas yang olehnya ia menjadi pemimpin. Sebagai hamba, ia terpanggil dengan status menghamba kepada TUHAN, yang harus diwujudkan dalam sikap, sifat, kata, dan perbuatan.
➢ Pemimpin Kristen harus memiliki motif dasar kepemimpinan Kristen yaitu; . “membina hubungan” dengan orang yang dipimpinnya dan orang lain pada umumnya (Markus 3:13-19; Matius 10:1-4; Lukas 6:12-16). Dalam kaitan ini, perlulah disadari bahwa kadar hubungan-hubunganlah yang menentukan keberhasilan seseorang sebagai pemimpin.
➢ “mengutamakan pengabdian” (Lukas 17:7-10). Mengutamakan pengabdian menekankan bahwa “kerja” adalah fokus, prioritas, sikap serta tekanan utama, sehingga ia akan mengabdikan diri untuk melakonkan tugas kepemimpinan dengan sungguh-sungguh.

2. Pemimpin Kristen harus memahami PROSES KEPEMIMPINAN serta ketrampilan memimpin, antara lain:
➢ Ia harus mengetahui tujuan (tujuan Allah, tujuan organisasi, tujuan operasi kerja) dari institusi/organisasi yang dipimpinnya.
➢ Ia perlu mengenal tanggung jawab serta tugas yang dipercayakan kepadanya.
➢ Ia harus memahami dan mengenal fungsi pengelolaan kerja (manajemen) – (Lukas 14:28-30).
➢ Ia harus berupaya mengenal setiap orang yang dipimpinnya untuk mempermudah penggalangan serta pembinaan hubungan antara pemimpin-bawahan, sebagai dasar untuk melaksanakan kinerja kepemimpinan yang berkualitas. Kondisi hubungan baik antara pemimpin dengan para bawahan sangat menentukan pelaksanaan kerja yang dapat dilakukan dengan baik pula.
➢ Ia harus mengerti dengan baik bagaimana caranya mencipta hubungan, kondisi yang kondusif, serta pemenuhan kebutuhan dari bawahannya dalam upaya memperlancar uapaya dan kinerja kepemimpinan.

C. Dasar Etika-Moral Kepemimpinan Kristen

Kepemimpinan Kristen memiliki dasar etika-moral yang Alkitabiah. Dalam kepemimpinan Kristen, presuposisi dasar etika-moral dilandaskan atas fakta dan dinamika “inkarnasi” Yesus Kristus (Yohanes 1:1-14, 18; Filipi 2:1-11). Konsep inkarnasi dalam kepemimpinan Kristen yang dibangun di atas fakta “inkarnasi Yesus Kristus” yang memiliki kisi kebenaran berikut:
➢ Dasar perilaku etika-moral kepemimpinan Kristen adalah pribadi Yesus Kristus, termasuk: kehidupan, karya, ajaran dan perilaku-Nya, di mana seluruh kerangka kepemimpinan Kristen dibangun di atas dasar ini (I Yohanes 2:6).
➢ Orientasi dan pendekatan etika-moral kepemimpinan Kristen bersifat partisipatif yang berlaku dalam penerapan kepemimpinan Kristen pada segala bidang hidup (Lukas 4:18-19).
➢ Dinamika etika-moral kepemimpinan Kristen terwujud oleh adanya transformasi hidup (individu/masyarakat) yang dibuktikan dengan pertobatan/pembaharuan/pemulihan hidup dan semangat kerja (individu/korporasi; banding: Roma 12:1-2, 8, 9-21).
➢ Perwujudan dasar etik-moral kepemimpinan Kristen di atas haruslah dinyatakan dalam sikap hati, kata dan perbuatan serta bakti setiap pemimpin Kristen secara nyata dalam bidang hidup berikut:
a. Pemimpin Kristen harus membuktikan diri sebagai pemimpin bertanggung jawab (Ibrani 13:17).
b. Pemimpin Kristen harus menemukan diri sebagai pemimpin yang bertumbuh (Kolose 2:6-7; 3:5-17).
c. Pemimpin Kristen harus menjadi pemimpin model dalam keteladanan hidup dan kinerja (Ibrani 13:7-8).
d. Pemimpin Kristen harus memiliki: motivasi dasar Pelayan-Hamba (Markus 10:42-45), yang senantiasa menyadari akan status dan perannya sebagai pemimpin.
Motivasi dasar seseorang pemimpin seperti ini akan sangat menentukan sikap, perilaku, kata dan tindakan dari orang tersebut, baik terhadap diri, orang lain maupun pekerjaan. Karena itu, seorang pemimpin Kristen perlu memastikan apakah ia memiliki dasar etika-moral, orientasi dan motivasi yang sesuai dengan Firman Allah.
Dalam konsep kepemimpinan Kristiani, ada beberapa faktor utama yang menentukan keberhasilan seorang pemimpin. Faktor-faktor itu adalah:

* VISI (sense of mission)
“Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat,” demikianlah dikatakan dalam Amsal 29:18. Visi adalah tujuan, sasaran, goal, arah, wahyu, mimpi yang hendak dicapai. John Stott mengatakan bahwa visi adalah suatu ihwal melihat, mendapat persepsi tentang sesuatu yang imajinatif, yang memadu pemahaman yang mendasar tentang situasi masa kini dengan pandangan yang menjangkau jauh ke depan.
Musa merupakan salah satu pemimpin besar yang mengerti benar mengenai visi. Ia berjuang keras memimpin bangsanya melawan penindasan Mesir, mengarungi padang gurun selama puluhan tahun, karena ia mendapat visi yang jelas tentang “Tanah Perjanjian”.

* PENGETAHUAN & USAHA (knowledge-skill)
Visi harus dibarengi dengan pengetahuan yang cukup dan usaha. Tidak cukup bagi Musa untuk memimpikan suatu negeri yang berlimpah-limpah madu dan susunya. Ia berusaha mewujudkannya. Ia menghimpun, menyatukan dan mengatur orang Israel menjadi suatu bangsa. Ia menggunakan pengetahuan yang didapatnya selama pendidikan di Mesir dan pengalaman bersama Tuhan untuk memimpin mereka melintasi gurun yang penuh bahaya dan kesukaran sebelum akhirnya mencapai tanah Kanaan.

* KETEKUNAN & TANGGUNG JAWAB (sense of responsibility)
Ketekunan merupakan salah satu kualitas kepemimpinan yang paling utama. Musa lagi-lagi merupakan teladan ketekunan yang penuh ketabahan. Berkali-kali dalam hidupnya bangsa Israel “menggerutu” terhadap kepemimpinannya dan menentang wibawanya. Akan tetapi Musa tidak menyerah. Ia tidak lupa akan panggilan Allah kepadanya untuk memimpin bangsa itu. Ia bertanggung jawab melakukan perintah Tuhan untuk membawa bangsa itu keluar dari Mesir menuju tanah Kanaan.

* KARAKTER (Christlike Character)
Kepemimpinan Kristen merupakan kepemimpinan yang berpusat pada Yesus Kristus. Tidak seorangpun yang akan mampu menjadi pemimpin Kristen yang handal bila ia tidak lebih dulu berjumpa secara pribadi dengan Yesus dan menjadi ciptaan baru (II Korintus 5:17).

Ketika seorang menghendaki untuk menjadi pemimpin yang efektif, ia harus memiliki karakter yang baik. Lynn E. Samaan dan Dunnam, pakar kepemimpinan mengatakan, “Pemimpin Kristen menerima kehidupan Kristus dengan iman dan menerapkannya dengan komitmen, disiplin dalam perilaku/perbuatan, dimana kehidupannya setiap waktu mengungkapkan Kristus yang hidup di dalamnya sebagai kesaksian kepada dunia.” Tujuan utama pengembangan karakter adalah “kualitas hidup” yaitu kualitas hidup rohani yang berpusatkan Kristus (band. 3 Yoh. 1:2). Kualitas hidup ini dipengaruhi oleh pekerjaan Roh Kudus dalam semua aspek dan peristiwa hidup serta respon atau komitmen (sikap) terhadap peristiwa serta pengalaman hidup tersebut. Buah Roh akan makin terpancar dalam kehidupan sementara buah daging makin terkikis.
Salah satu karakter pemimpin Kristen yang diinginkan Yesus terlihat dalam firman-Nya, “Kamu tahu bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi…Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu…Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani… (Markus 10:42-45). Panggilan kita adalah untuk melayani bukan untuk dilayani dan menguasai. Pemimpin harus melayani dan memperhatikan kebutuhan bawahannya. Memberi kesejahteraan pada mereka, sehingga bawahan akan bersemangat menopang pemimpinnya. Seperti Yesus yang mencukupi kesejahteraan murid-murid-Nya dengan menunjuk bendahara untuk mengelola keuangan. Pemimpin Kristen bukanlah pemimpin-penguasa, melainkan pemimpin-hamba. Otoritas memimpin dilakukan bukan dengan kekuasaan melainkan kasih, bukan kekerasan melainkan teladan, bukan paksaan melainkan persuasif.

D. BEBERAPA HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN OLEH PEMIMPIN KRISTEN.
1. Relasi suami – istri: pada titik ini kepemimpinan menjadi sesuatu yang tidak berarti ketika keberhasilan di dunia usaha tidak pararel dengan keberhasilan relasi suami – istri.

2. Kelelahan : pada beberapa tokoh alkitab nampak bahwa kelelahan / keletihan rohani dapat menjadi gangguan dalam mengembangkan kepemimpinan. Musa, Elia bahkan Yesus memperlihatkan bahwa ada pengalaman yang sama , tetapi mengatasinya yang berbeda.

3. ‘rubber neck` : pada bagian ini seseorang yang selalu menoleh kepada hal buruk akan menghambat jalannya organisasi dan tujuan mencapai sasaran akan terhambat.

4. Kasih. Kasih adalah sebuah pengorbanan. Sebab kasih tanpa keberanian untuk menderita pada hakekatnya adalah sikap ‘take and give` dalam arti yang sempit. Mengasihi dapat diperlihatkan dalam tindakan yang non-permisif sehingga kasih tidak kehilangan nilai. Setiap orang dapat mengasihi namun hanya dalam Yesus Kristus kasih menjadi berarti, sebab mengasihi bukan untuk dikasihi, tetapi mengasihi sebab telah dikasihi.

No Response to “KEPEMIMPINAN KRISTEN”

Comments are closed.