Ibadah Minggu Jam 06:00, 09:00, dan 18.00 WIB. Untuk Pos Ibadah Jam 07:00 WIB

- Tampilkan Lokasi Gereja

Hidup Bersama Yang Benar (Roma 2: 1-5) – Khotbah Hari Minggu 11 Agustus 2013

Sudah 3206 kali dilihat

HIDUP BERSAMA YANG BENAR (ROMA 2: 1-5) _______________________________________________

KHOTBAH HARI MINGGU 11 AGUSTUS 2013

Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,

Hidup setiap orang percaya memiliki pemahaman yang mendasar yakni hidup di dalam kasih karunia Allah. Hidup di dalam kasih karunia Allah sekaligus menjadi tanda dimulainya era baru dalam semangat sebagai manusia baru yang terus menerus diperbaharui. Maka hidup didalam kasih karunia menempatkan seseorang pada posisi yang selalu sadar dan mengawasi dirinya sendiri. Ini penting agar hidup yang dibingkai dengan kasih karunia adalah hidup yang jauh dari kemunafikan. Artinya ketika seseorang yang hidup dalam kebenaran, ia memahami bahwa dirinya sendiri sudah mengalami pembenaran didalam Yesus Kristus. Pembenaran yang dialaminya memberi ia ruang untuk mengekspresikan kebenaran sebagai sebuah gaya hidup dan bukan sebuah kewajiban. Seluruh hidupnya dipahami dalam kesadaran yang kuat bahwa kasih karunia yang dialaminya tidak memberi mandate untuk menjadi hakim bagi sesama. Sebagai pribadi yang mengalami kasih karunia maka hal pertama yang dipahaminya ialah bahwa ia mengalami pembebasan dari hukuman sebagai perwujudan dari kuasa Injil (1:16). Maka pribadi yang mengalami kasih karunia Allah adalah pribadi yang menolak setiap bentuk ‘superioritas’ dalam bebrbagai bentuk. Apakah superioritas gender, intelektual maupun bangsa sehingga menganggap yang lain sebagai pesaing atau bahkan musuh. Pendekatan Paulus kepada jemaat yang berada di Roma pada dasarnya bertolak dari hal-hal mendasar sebagaimana berikut ini :

    1. ayat 1-3 : sikap hipokrit adalah kejahatan terselubung

Apa yang dikemukakan oleh Paulus dalam bagian ini hendak memperlihatkan bahwa ketika seseorang menunjuk atau menghakimi orang lain dan saat yang sama terlibat dengan kejahatan yang dituduhkan maka ia sedang bertindak munafik dan kebenaran tidak ada pada orang itu. Hal ini mempertegas kehadiran manusia yang tidak menghargai kasih-karunia Allah. Sebab jika ia memahami kasih-karunia Allah dengan sungguh-sungguh maka ia tiba pada kesimpulan ‘siapakah aku hingga Allah demikian mengasihiku?’. Hal ini akan menjauhkannya dari sikap menghakimi sesama sebab ia juga tahu bahwa ia terbatas.

Sikap menghakimi adalah hal yang sangat berbeda tajam dengan sikap menyatakan kebenaran. Menyatakan kebenaran Allah merupakan tindakan yang benar dan sekaligus hidup didalamnya (band. Ef. 2:10). Ini berarti sikap menghakimi selalu bertolak dari arogansi diri yang berujung pada ketidakbenaran.

Teguran Paulus kepada orang yahudi waktu itu hendak memperlihatkan bahwa jika mereka berada dalam kejahatan moral maka Allah menghukum mereka dalam kebenaran (lihat Rom. 1:23, 25, 30-32).

Bagi kita semua saat ini merupakan sebuah keharusan untuk menghindar dari jeratan arogansi menghakimi sesama. Kerendahan hati adalah sikap jelas untuk memahami kasih karunia Allah. Dimanakah hal ini didapatkan ? DI RUMAH….

Arogansi bisa berawal dari rumah ketika suami merasa diri paling utama dan penting atau istri yang merendahkan suami. Kerendahan hati merupakan obat mujarab untuk membangun relasi yang jujur dan tulus dalam keluarga serta terhindar dari sikap saling menghakimi.

Persoalan besar dalam kehidupan keluarga Kristen saat ini adalah ketika pasangan suami-istri merasa diri paling benar dan karena itu paling berhak untuk menghakimi pasangan. Arogansi dalam keluarga merupakan benih yang akan muncul di ruang publik. Maka mewaspadai kejahatan menghakimi sesama bisa diawali di rumah. 

 

2. Ayat 4 – 5. Allah adalah Allah yang kaya dengan kemurahan

Dengan penjelasan Paulus di ayat sebelumnya menjadi bukti bahwa arogansi sungguh merupakan penghinaan terhadap kasih karunia Allah. Allah yang melimpah dengan kasih-karunia dapat menjadi pemicu hadirnya semangat yang sama di lingkungan umat Tuhan (band. Ef. 2:4).

Berkat Allah yang melimpah dialami oleh setiap orang percaya yang terus menerus mengalami koreksi oleh Kasih Karunia. Artinya melalui kasih karunia yang melimpah dari-Nya maka tidak ada ruang untuk memegahkan diri. Sikap tidak mau merendahkan hati dihadapan-Nya adalah titik awal terjadinya penghakiman Allah. Dan Ia benar dalam penghakiman-Nya.

Kita bisa belajar dari hal ini bahwa Allah adalah Allah yang selalu hadir dengan kasih yang melimpah, berkat yang melimpah. Namun kita juga bisa mawas diri untuk menjaga keberadaan kita dari pengaruh merendahkan kasih karunia Allah. (Roma 1:30).

 

Sahabat-sahabat yang terkasih di dalam Yesus Kristus, akhirnya…

Hendaklah kita selalu mengucap syukur sebab Ia menciptakan manusia untuk menjadi mitra yang dipercayai-Nya melakukan karya besar. Kasih Allah melimpah-limpah dikaruniakan kepada setiap orang yang menghayati panggilan dan pengutusannya. Maka kesombongan, arogansi atau apapun yang sejenis dengan itu harus dihindari. Dari mana hendak dimulai ? jawabnya jelas DARI RUMAH dari keluarga. Jangan menghakimi pasangan itulah yang penting supaya orang percaya terbiasa tidak menghakimi sesama di ruang publik.

MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERIH LELAH KITA MEWARTAKAN INJIL YANG BERLIMPAH-LIMPAH TIDAK AKAN SIA-SIA. AMIN

(Pdt. Alexius Letlora)

No Response to “Hidup Bersama Yang Benar (Roma 2: 1-5) – Khotbah Hari Minggu 11 Agustus 2013”

Comments are closed.

Event Yang Akan Datang

lihat semua event yang akan datang

Jumlah Pengunjung

Ada 1 pengunjung online
June 2017
M T W T F S S
« May    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930