Ibadah Minggu Jam 06:00, 09:00, dan 18.00 WIB. Untuk Pos Ibadah Jam 07:00 WIB

- Tampilkan Lokasi Gereja

Dalam Genggaman Tangan Ibu

Sudah 1550 kali dilihat

Setiap menjelang ulang umum secara rutin seorang ibu akan berjalan bersama anaknya menyusuri jalan menuju sebuah gereja. Gereja itu tidak besar hanya sebuah rumah ibadah yang kecil dan sederhana dekat perlintasan kereta api.

Perjalanan menuju rumah ibadah itu tidak lama sebab jarak yang dekat dari kediaman, namun bagi kaki yang kecil di usia 10 tahun, jalan itu terasa panjang dan lama dan menyenangkan.

Perjalanan menuju rumah ibadah itu diselingi dengan percakapan antara ibu dan anak.

Pertanyaan anak itu selalu sama setiap tahun, ‘kenapa harus ke rumah ibadah? dan dalam arifnya ibu akan menjawab ‘ supaya disana kita bisa berdoa’. Dan yang berdoa juga bukan seorang pendeta tetapi seorang penjaga gereja (koster) yang dengan gembira menyambut mereka.

Perjalanan itu bukan perjalanan istimewa tetapi yang istimewa ialah selama mereka berjalan tangan bunda selalu menggenggam tangan anaknya. Dalam genggaman tangan bunda anak itu mengenal arti bersandar pada Tuhan, tidak dengan teori teologi yang tinggi tapi dalam sederhanya sebuah genggaman. Ketika anak itu bertanya lagi ‘kenapa bukan pendeta yang berdoa` maka jawaban sang ibu ialah ‘kita orang kecil, ini juga masalah kecil dan jangan ganggu pak pendeta`. Inilah kearifan yang tumbuh bukan dari kecerdasan akademik tetapi yang arif karena selalu belajar untuk rendah hati.

Hidup dapat menjadi sarana yang paling canggih dalam belajar karena teori tentang hidup selalu berakar pada kenyamanan sebuah genggaman.

Ketika tiba di gereja, setelah penjaga malam membuka pintu gerbang gereja, maka anak itu akan terus berjalan dengan si penjaga malam yang sudah lanjut usia namun selalu ceria dibalik wajah tuanya. Badan penjaga malam itu gemuk sekali dan kalau berjalan bisa miring ke kanan atau ke kiri, namun ketika berdoa, suaranya lembut dengan nada baritone yang kuat. Ia akan berdoa supaya ulangan umum anak itu dapat dilewati dengan baik, doanya panjang kadang melelahkan sebab mereka berdoa sambil duduk dilantai. Doanya panjang kadang disertai dengan tangan yang mengusap kepala anak laki-laki itu.

Sang ibu sedang bercakap-cakap dengan istri si penjaga gereja yang juga sudah lanjut usia.

Ketika akan berpamitan pulang selalu ada gambar Tuhan Yesus diberikan. Gambar itulah yang kemudian disimpan baik dalam buku.

Semua berawal dari genggaman tangan bunda yang melengkapi sang anak dengan pengalaman kearifan. Perjalanan dengan genggaman tangan itu akhirnya terhenti ketika sang penjaga malam sudah tiada. Penjaga malam yang selalu berdoa dengan suara baritone dan tangan yang mengusap kepala. Pengalaman berjalan dengan genggaman tangan ibu menjadi kisah klasik tentang kasih tetapi selalu bergema dalam hati.

Anak laki-laki itu sekarang sudah jadi pendeta tetapi kisah genggaman tangan bunda selalu menguatkan. Terimakasih ibu. Pesan untuk setiap ibu, genggaman tanganmu punya arti besar bagi anak.  Pesan untuk setiap anak, jangan lupakan genggaman tangan bunda yang mengarahkanmu ke masa depan.

Bersyukur selalu untuk ibu yang mau menggenggam tangan anak. SELAMAT HARI IBU,

TUHAN BERKATI SETIAP PEREMPUAN.

No Response to “Dalam Genggaman Tangan Ibu”

Comments are closed.

Event Yang Akan Datang

lihat semua event yang akan datang

Jumlah Pengunjung

Users online class errors:
  • Unable to record new visitor
  • Unable to delete visitors
February 2021
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728