Ibadah Minggu Jam 06:00, 09:00, dan 18.00 WIB. Untuk Pos Ibadah Jam 07:00 WIB

- Tampilkan Lokasi Gereja

Ayah

Sudah 832 kali dilihat

Seorang buruh panen di Thailand, dengan tekad dan kerja keras berhasil menyekolahkan anaknya hingga sarjana. Padahal kehidupan seorang ayah tua tersebut sangatlah jauh dari kata nyaman. Di usianya yang ke-74 tahun, sang Ayah telah menyaksikan keberhasilan anaknya di bangku kuliah. Kehidupannya sangat memprihatinkan. Hidup seorang diri setelah pada usia ke-58 tahun istrinya meninggal karena penyakit gizi buruk. Sedangkan anaknya yang semata wayang, Hieu Lam harus merantau ke luar kota demi menuntut ilmu. Penghasilannya dari hasil panen diberi upah hanya 18 bath, atau sekitar Rp 2.590. Dengan penghasilan segitu, sangat tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Untuk makan saja, sang Ayah hanya mengandalkan pemberian hasil panen yang diterimanya seminggu sekali.

Saat wisuda pun, sang Ayah tidak bisa menghadiri acara wisuda putra kesayangannya karena tidak ada ongkos untuk ke luar kota. Hieu Lam pun harus rela melewatkan momen membahagiakan itu tanpa kehadiran seorang Ayah. Setelah acara wisuda usai, Hieu Lam segera menuju kampung halaman untuk berjumpa dengan sang Ayah.

Begitu sampai di pintu depan, Hieu Lam langsung bergegas menuju ruang tengah yang juga sebagai dapur. Betapa terkejutnya dia menemui Ayahnya sedang terbaring lemah dengan sorot mata yang nampak begitu sayu. Nampak sang Ayah terbaring lemah, di sekitar tempatnya terbaring ada gelas kosong dan sisa sepiring nasi yang tampak sudah mengering. Namun.. meski dalam kondisi sakit sang Ayah tetap berusaha untuk menyembunyikan rasa sakitnya dari Hieu Lam. Senyumnya tetap terpampang di wajahnya meski sesekali harus menahan batuk. Di samping tempat tidur, Hieu Lam menceritakan keberhasilan studinya yang sukses dengan nilai cumlaude dan menjadi salah satu lulusan terbaik tahun ini. Dengan bangga, dia memakai kembali toga yang dikenakannya pada saat acara wisuda.Kemudian membimbing sang Ayah beranjak dari  tempatnya berbaring untuk berfoto.

Pada awalnya sang Ayah enggan diajak foto,”Kamu saja foto sendiri Nak, Ayah takut nanti Membuat kamu malu dengan keadaan ayah yang seperti ini. Kamu sekarang sudah menjadi orang hebat.” Lalu kemudian sang Anak berkata, “Tidak Ayah, Aku sama sekali tidak merasa malu. Bahkan aku sangat bangga punya orangtua sehebat Ayah yang mampu menyekolahkan anaknya hingga sarjana.”

Akhirnya sang Ayah menepuk-nepuk bajunya yang berdebu, membersihkan lengannya yang lekat dengan tanah kering untuk berfoto dengan menggunakan kamera ponsel Hieu Lam. Keesokan harinya, sakit sang Ayah semakin parah. Hieu Lam yang mengetahui kondisi Ayahnya yang semakin memburuk, segera menggendongnya untuk dibawa ke rumah sakit terdekat. Menurut dokter, Ayah Lam terjangkit Legiun stadium empat yang disebabkan oleh bakteri Legionella. Penyakit ini mirip dengan penyakit mematikan Pneumonia. Tak sempat lama dirawat, malam harinya sang Ayah menghembuskan nafas terakhir di hadapan Hieu Lam.

Demikian kisah perjuangan seorang ayah di Thailand. Setiap orang tua akan selalu rela MENUNDA kesenangan diri sendiri dami menyenangkan anaknya. Sudah sepatutnya sekarang kita yang menyenangkan atau membahagiakan mereka tanpa harus MENUNDA. Atau jika ternyata masih TERTUNDA, setidaknya kita tidak membuat mereka sedih dan kecewa. Apalagi menyakiti hatinya. Menjadi ayah bukan hal sederhana, sebab setiap anak akan melihat ayahnya sebagai tolok ukur untuk masa depan. Ia akan bangga jika ayahnya adalah sosok yang paham dan mewujudkan arti  dari keteladanan, kasih sayang, dan mengasihi ibu dari anaknya.

Selamat HUT Pekat PKB, jadilah ayah teladan dan mewariskan nilai positif dalam kehidupan anak.

No Response to “Ayah”

Comments are closed.

Event Yang Akan Datang

lihat semua event yang akan datang

Jumlah Pengunjung

Users online class errors:
  • Unable to record new visitor
  • Unable to delete visitors
March 2021
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031